Sebaran Lokasi Akses Internet di Provinsi Kepulauan Riau

Berikut ini informasi sebaran lokasi akses internet berdasarkan wilayah, terdapat 17 lokasi di provinsi Kepulauan RiauInfogrfais Sebaran Internet Kepulauan Riau.jpg

Advertisements

BP3TI KOMINFO Akan Bangun Ratusan BTS di Wilayah Terdepan, Terluar, Tertinggal Hingga Tahun 2019

rudiantara-kalbar

Sanggau, 18 Oktober 2016:  BP3TI (Badan Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menargetkan  hingga tahun 2016 akan terbangun 147 BTS di seluruh daerah blankspot yang tersebar di Indonesia, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal)  . “Jumlah BTS tersebut akan terus bergerak naik, seiring dengan hasil terbaru dari proses survey yang dilakukan oleh Kementerian Kominfo dan usulan dari kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah” Ungkap Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika ketika meninjau lokasi BTS (Base Transceiver Station) di Dusun Pala Pasang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Sementara itu, berdasarkan  Rencana Strategis kementerian Komunikasi dan Informatika 2015-2019, pada tahun 2019 sudah terbangun 625 BTS di daerah blankspot. Sehingga nantinya tidak ada lagi daerah yang tidak terhubung akses telekomunikasi dan informasi.

Menteri Komunikasi dan Informatika bersama Perwakilan Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat dan Bupati Sanggau pada 18 Oktober telah mengunjungi lokasi BTS di Dusun Pala Pasang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau. Lokasi BTS ini merupakan satu dari 23 BTS yang telah dibangun pada tahun 2016 oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika di daerah blankspot sinyal telekomunikasi, yang mana daerah blankspot tersebut terletak di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

BTS di daerah blankspot yang dibangun oleh BP3TI merupakan usulan dari pemerintah daerah dan diimplementasikan melalui kerjasama dibangun atas kerja sama antara BP3TI, pemerintah daerah, perusahaan penyediaan transimisi dan operator seluler. Mekanisme kerjasama yang digunakan adalah mekanisme sewa layanan, di mana BP3TI mensubsidi biaya, pemerintah daerah meminjamkan lahan, dan operator selular melaksanakan pembangunan dan pengelolaan. Operator selular yang kali ini melakukan kerja sama dengan Kementerian Kominfo untuk melayani BTS di daerah Blankspot, yaitu PT. Telkomsel.

Dalam pembangunan tower dan power, BP3TI bekerjasama dengan PT. Surya Energi Indotama, sedangkan untuk transmisi bekerja sama dengan enam perusahaan penyewaan transmisi. BTS yang terletak di Dusun Pala Pasang ini dibangun atas kerja sama antara BP3TI, pemerintah daerah, perusahaan penyediaan transimisi dan operator telekomunikasi. Untuk BTS Pala Pasang, lahan yang digunakan merupakan pinjam pakai dari Pemerintah Kabupaten Sanggau kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Menteri Komunikasi dan Informatika dalam kesempatan kunjungan ini juga melakukan panggilan percobaan (test call Bupati Maybrat yang sedang berada di lokasi BTS Perbatasan) ke BTS blankspot yang berada di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Test call dimaksudkan untuk menguji sinyal telekomunikasi seluler antara dua BTS. “BTS yang dibangun menggunakan dana USO untuk daerah blankspot  terutama di daerah 3T yang secara bisnis dianggap tidak profitable, sehingga perlu peran pemerintah dalam membangun dan menyediakan akses telekomunikasi. Harapannya setelah ada BTS masyarakat tidak perlu lagi pakai sinyal operator negara tetangga untuk menelepon,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika.

Menteri Komunikasi dan Informatika juga menyatakan bahwa pembangunan BTS oleh Kementerian Kominfo di daerah 3T ini dimaksudkan untuk mengokohkan kedaulatan negara Indonesia.

“Dengan terpasangnya BTS di Perbatasan Indonesia, kita dapat turut menjaga kedaulatan Negara di bidang telekomunikasi dan informatika.” jelas Rudiantara

Pembangunan BTS di daerah blankspot merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membangun ketersediaan infrastruktur layanan akses telekomunikasi yang menghubungkan seluruh daerah di Indonesia. Pembangunan sarana telekomunikasi dan infromatika di wilayah perbatasan sesuai dengan amanat poin ketiga Nawa Cita, yaitu membangun Indonesia dari pinggir dengan memperkuat desa-desa dan daerah-daerah dalam kerangka negara persatuan. Selain itu, pembangunan ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan infrastruktur publik, khususnya sektor telekomunikasi.

Penyediaan BTS oleh Kementerian Kominfo di daerah blankspot merupakan salah satu implementasi dari program USO (Universal Service Obligation/Kewajiban Pelayanan Universal) di bidang telekomunikasi dan informatika, selain Palapa Ring dan Penyediaan Akses Internet. Program USO dibangun dengan menggunakan dana USO di Bidang Telekomunikasi dan Informatika dikelola oleh BP3TI bahwa tahun 2016 ini 75 BTS akan dibangun di daerah blankspot menggunakan dana USO di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Barat.

rudiantara-kalbar2Tahun 2016, telah dibanguni 23 BTS dan menyediakan sinyal di daerah blankspot yang tersebar di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Papua, Papua Barat, dan Kep. Riau; satu BTS di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara; satu lagi terletak di di Kabupaten  Keerom, Papua. Tujuh BTS terletak di Propinsi Kalimantan Barat dengan titik sebaran,yaitu dua BTS kabupaten Sanggau, empat BTS di kabupaten Kapuas Hulu dan satu BTS di kabupaten Sintang. Kemudian dua BTS sudah terpancang di Kabupaten Pegunungan Arfak dan satu BTS di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Selain itu, terdapat lima titik BTS yang semuanya terletak di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Desa Broadband Terpadu, Dari Kominfo untuk Persatuan Indonesia

img_9063

Bhinneka Tunggal Ika, risalah yang tak pernah putus diceritakan oleh mereka yang mencintai negeri ini. Dari Sabang sampai Merauke, Talaud hingga Rote, sebuah kutipan rima tentang persatuan yang tidak hanya nikmat diucapkan namun bermakna dalam jika dilakukan. 71 tahun kita sudah menjaga negeri ini tetap berdiri tegak. Lengan baju tak lantas diturunkan untuk kemudian berpangku tangan. Polemik di negeri ini masih bertumpuk menunggu runtuh. Kesenjangan di segala lini kehidupan masyarakat Indonesia, menjadi permasalahan utama yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan.

Kerja Nyata melalui Nawacita, menjadi semboyan Presiden jokowi untuk mengurai kesenjangan yang menggerogoti nasionalisme di negeri ini. Presiden RI ke 7 itu melalui Nawacita memerintahkan menteri dan jajarannya agar kreatif dan inovatif dalam menerjemahkan program Nawacita.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, melalui Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) mencanangkan 5 program dalam menjawab kerja nyata Nawacita dalam memperkuat NKRI`. Palapa Ring, BTS Blank Spot, Akses Internet, Infrastruktur Penyiaran, dan Desa Broadband Terpadu merupakan program yang lahir guna mengurai kesenjangan telekomunikasi dan informatika di Indonesia kususnya di daerah perbatasan. Tidak meratanya pembangunan infrastruktur Telekomunikasi dan Informatika berdampak pada kecemburuan masyarakat di desa terhadap masayarakat di kota. Ketidakadilan ini membuat masyarakat Indonesia sangat mudah disulut isu-isu perpecahan.

Luas dan sulitnya menjangkau setiap daerah-daerah perbatasan dan pelosok di Indonesia menjadi persoalan dan tantangan tersendiri bagi Kominfo dalam memberikan pemerataan akses telekomunikasi dan informatika yang layak bagi masyarakat. Permasalahan lain yang harus kita pecahkan adalah ketidakmampuan masyarakat dalam menyediakan perangkat telekomunikasi dan informatika sendiri. Perekonomian yang lambat berkembang menjadikan masayarakat di daerah 3T berdaya beli minim.

Menjawab permasalahan tersebut Kominfo melalui BP3TI memberikan bantuan berupa Perangkat Komputer, Printer, dan akses Internet yang disebut Program Desa Broadband Terpadu (DBT). Selain akses internet dan perangkat komputernya, program DBT juga terdapat program pengembangan Sumber Daya Manusia untuk mengenalkan dan melatih SDM setempat dalam menggunakan perangkat komputer dan internet yang telah disediakan.

Tahun 2015, BP3TI telah melaksanakan Program DBT di 50 desa yang tersebar di 20 kabupaten di seluruh Indonesia. Masyarakat disekitar lokasi DBT dan para pandu desa yang menggawangi DBT telah mampu membuat website desa untuk memperkenalkan desa dan kualitas masing-masing desa ke dunia luar.

Sumber: bp3ti.kominfo.go.id